11 Februari 2009

Durian

Teknik Penanaman Durian

(dalam Bahasa Indonesia)


BAB I

PENDAHULUAN

Tanaman buah durian adalah salah satu bagian dari sistem kebun yang

merupakan salah satu pola dari bidang usaha yang banyak dipraktikkan di Indonesia.

Sistem tersebut tumbuh secara tradisional dan hasilnya biasanya hanya digunakan

untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan memenuhi kebutuhan pasar di desa.

Apabila produksi tanaman buah durian dapat dilakukan dengan baik

sehingga dapat menghasilkan produk yang berkualiti sesuai dengan tuntutan

pasar, maka penanaman buah durian merupakan peluang bagi petani untuk

memenuhi kebutuhan pasar buah durian di tingkat provinsi ataupun nasional.

Hal ini sangatlah penting terutama untuk petani yang tinggal di sekitar

hutan sehingga dapat mengurangi skala kerosakan hutan.

Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga

berasal dari istilah Melayu iaitu dari kata duri yang diberi akhiran -an sehingga

menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang

kulitnya berduri tajam. Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah Barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M. Nama lain durian adalah duren (Jawa, Gayo), duriang (Manado), dulian (Toraja), rulen (Seram Timur).

Beberapa petani melihat bahawa menanam buah durian, bererti menciptakan alternatif penghasilan keluarga dan meningkatkan taraf hidup untuk jangka panjang. Oleh karena itu, meningkatkan kemampuan teknik perbanyakan

dan amalan kultur buah durian sangat penting di tingkat petani. Beberapa petani yang bersemangat menanam buah durian, umumnya mendapatkan dan memperbanyak anak benih dari biji yang tersedia di sekeliling mereka. Namun sangat disayangkan bahawa kualiti fisiologi dan genetik benih tersebut diragukan. Benih yang di rekomendasi biasanya terdapat di dinas pertanian. Sayangnya sebahagian besar benih yang digunakan petani berasal dari sektor informal. Oleh sebab itu, untuk mendukung dan meningkatkan usaha petanaman buah-buahan yang dilakukan petani, baik penelitian mahupun penyuluhan harus diarahkan untuk memperkuat dan meningkatkan ketersediaan benih dan anak benih tanaman bermutu. Tahap pertama untuk mencapai tujuan tersebut adalah membangun kerjasama antar kelompok tani dengan sektor pembenihan formal melalui kunjungan lapangan, menyebarkan benih dan anak benih bermutu ke petani, bekerjasama dengan lembaga yang mempunyai percubaan di tingkat petani, serta melakukan kegiatan pelatihan perbanyakan dan pengelolaan anak benih buah untuk petani dan staf LSM yang bekerja bersama petani.

Kerjasama dan keterkaitan di atas jelas akan memberikan kemandirian

petani untuk menghasilkan dan mengelola anak benih dan tanaman mereka. Oleh sebab itu, melatih kemampuan petani untuk melakukan perbanyakan secara vegetatif adalah langkah yang penting untuk mendapatkan anak benih yang baik secara genetik, memperbanyak jenis-jenis tanaman yang sulit didapati, mempercepat saat pembuahan, serta menghindari terjadinya kekurangan benih kerana tidak

teraturnya masa pembungaan. Dan didasarkan pada tujuan pedoman teknik

perbanyakan vegetatif dan amalan kultur buah-buahan terutama sekali pada buah-buahan durian.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sistem pembiakan secara vegetatif pada durian

Durian ditanam dengan menggunakan biji atau secara vegetatif. Walaupun

pembiakan menggunakan biji mudah dan murah, ia tidak dapat mengekalkan ciri-ciri pokok induk karena kebanyakan varieati komersial melalui pendebungaan

silang. Pokok ini juga lambat berbuah. Dengan itu, pokok durian lebih baik

dibiakkan secara vegetatif. Pensyaratan biji durian yang akan diokulasi berasal dari biji yang sihat dan tua, dari tanaman induk yang sihat dan subur, sistem perakaran bagus dan produktif. Biji yang ditumbuhkan, dipilih yang pertumbuhannya sempurna. Setelah umur 8-10 bulan, dapat diokulasi, dengan cara:

1. Kulit batang bawah disiat, tepat di atas matanya (.... 1 cm). Dipilih mata

tunas yang berjarak 20 cm dari permukaan tanah.

2. Siatan dibuat melintang, kulit dikupas ke bawah sepanjang 2-3 cm

sehingga mirip lidah.

3. Kulit yang mirip lidah dipotong menjadi 2/3-nya.

4. Sisipan “mata” yang diambil dari pohon induk untuk batang atas (disiat

dibentuk perisai) di antara kulit. Setelah selesai dilakukan okulasi, 2

minggu kemudian di periksa apakah perisai mata tunas berwarna hijau

atau tidak. Bila berwarna hijau, bererti okulasi berhasil, jika coklat, bererti

okulasi gagal.

2.1.1. Model tusuk/susuk

· Tanaman calon batang atas dibelah setengah bagian menuju ke arah pucuk.

Panjang belahan antara 1-1,5 cm diukur dari pucuk. Tanaman calon batang

bawah sebaiknya memiliki diameter sama dengan batang atasnya. Tajuk

calon batang bawah dipotong dan dibuang, kemudian disiat sampai

runcing. Bagian yang runcing disisipkan kebelahan calon batang atas yang

telah dipersiapkan. Supaya calon batang bawah tidak mudah lepas,

sambungannya harus diikat kuat-kuat dengan tali rafia.

· Selama masa penyusuan batang yang disatukan tidak boleh bergeser.

Sehingga, tanaman batang bawah harus disangga atau diikat pada tanaman

induk (batang tanaman yang besar) supaya tidak goyah setelah dilakukan

penyambungan. Susuan tersebut harus disiram agar tetap hidup. Biasanya,

setelah 3-6 bulan tanaman tersebut bisa dipisahkan dari tanaman induknya,

tergantung dari usia batang tanaman yang disusukan. Tanaman muda yang

kayunya belum keras sudah bisa dipisahkan setelah 3 bulan.

Penyambungan model tusuk atau susuk ini dapat lebih berhasil kalau

diterapkan pada batang tanaman yang masih muda atau belum berkayu

keras.

2.1.2. Model siatan

· Pilih calon batang bawah (anak benih) dan calon batang atas dari pohon induk

yang sudah berbuah dan besarnya sama.

· Kedua batang tersebut disiat sedikit sampai bagian kayunya. Siatan

pada kedua batang tersebut diupayakan agar bentuk dan besarnya sama.

· Setelah kedua batang tersebut disiat, kemudian kedua batang itu ditempel

tepat pada siatannya dan diikat sehingga keduanya akan tumbuh

bersama-sama.

· Setelah 2-3 minggu, sambungan tadi dapat dilihat hasilnya kalau batang

atas dan batang bawah ternyata bisa tumbuh bersama-sama berarti

penyusuan tersebut berhasil.

· Kalau sambungan berhasil, pucuk batang bawah dipotong/dibuang, pucuk

batang atas dibiarkan tumbuh subur. Kalau pertumbuhan pucuk batang atas

sudah sempurna, pangkal batang atas juga dipotong.

· Maka akan terjadi anak benih durian yang batang bawahnya adalah tanaman biji,

sedangkan batang atas dari ranting/cabang pohon durian dewasa.

d) Cangkukan

Batang durian yang dicangkuk harus dipilih dari cabang tanaman yang sehat,

subur, cukup usia, pernah berbuah, memiliki susunan percabangan yang rimbun,

4

besar cabang tidak lebih besar daripada ibu jari (diameter=2–2,5 cm), kulit masih

hijau kecoklatan. Waktu mencangkuk adalah awal musim hujan sehingga

terhindar dari kekeringan, atau pada musim kering, tetapi harus disiram secara

rutin (2 kali sehari), pagi dan sore hari. Adapun tata cara mencangkuk adalah

sebagai berikut:

1. Pilih cabang durian sebesar ibu jari dan yang warna kulitnya masih hijau

kecoklatan.

2. Sayap kulit cabang tersebut mengelilingi cabang sehingga kulitnya

terlepas.

3. Bersihkan lendir dengan cara di kerok kemudian biarkan kering angin

sampai dua hari.

4. Bagian bekas siatan dibungkus dengan media cangkuk (tanah, serabut

gambut, mos). Jika menggunakan tanah tambahkan pupuk

kandang/kompos perbandingan 1:1. Media cangkuk dibungkus dengan

plastik/sabut kelapa/bahan lain, kedua hujungnya diikat agar media tidak

jatuh.

5. Sekitar 2-5 bulan, akar cangkukan akan keluar menembus pembungkus

cangkukan. Jika akar sudah cukup banyak, cangkukan bisa dipotong dan

ditanam di keranjang persemaian berisi media tanah yang subur.

2.1.3 Teknik Penyemaian dan Pemeliharaan

Anak benih durian sebaiknya tidak ditanam langsung di lapangan, tetapi

disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Biji durian yang sudah

dibersihkan dari daging buah dikering-anginkan sampai kering tidak ada air yang

menempel. Biji dicambahkan dahulu sebelum ditanam di persemaian atau

langsung ditanam di polibag. Caranya biji dideder di plastik/anyaman

bambu/kotak, dengan media tanah dan pasir perbandingan 1:1 yang diaduk

merata. Ketebalan lapisan tanah sekitar 2 kali besar biji (6-8 cm), kemudian media

tanam tadi disiram tetapi (tidak boleh terlalu basah), suhu media diupayakan

cukup lembab (20°C-23°C). Biji ditanam dengan posisi miring tertelungkup

(bagian calon akar tunggang menempel ke tanah), dan sebahagian masih kelihatan di

atas permukaan tanah (3/4 bagian masih harus kelihatan). Jarak antara biji satu

5

dengan lainnya adalah 2 cm membujur dan 4-5 cm melintang. Setelah biji

dibenamkan, kemudian disemprot dengan larutan fungiside, kemudian kotak

sebelah atas ditutup plastik supaya kelembapannya stabil. Setelah 2-3 minggu biji

akan mengeluarkan akar dengan tudung akar langsung masuk ke dalam media

yang panjangnya ± 3-5 cm. Saat itu tutup plastik sudah bisa dibuka. Selanjutnya,

biji-biji yang sudah besar siap dibesarkan di persemaian pembesar atau polibag.

2.1.4) Pemindahan Anak benih

Anak benih yang akan ditanam di lapangan sebaiknya sudah tumbuh setinggi 75-

150 cm atau berumur 7 - 9 bulan setelah diokulasi, kondisinya sihat dan

pertumbuhannya bagus. Hal ini tercermin dari pertumbuhan batang yang kukuh,

pengakarannya banyak dan kuat, juga adanya helaian daun dekat pucuk tanaman

yang telah menebal dan warnanya hijau tua.

2.2 Pengolahan Media Tanam

2.2.1 Persiapan

Penanaman durian, perlu perencanaan yang cermat. Hal-hal yang perlu

diperhatikan adalah pengukuran pH tanah, analisis tanah, penetapan waktu/jadual

tanam, pengairan, penetapan luas areal penanaman, pengaturan volume produksi.

2.2.2 Pembukaan Lahan

Pembersihan dan pengolahan lahan dilakukan beberapa minggu sebelum

penanaman anak benih berlangsung. Batu-batu besar, alang-alang, pokok-pokok batang

pohon sisa penebangan disingkirkan. Perlu dibersihkan dari tanaman liar yang

akan mengganggu pertumbuhan.

2.2.3 Pembentukan Bedengan

Tanah untuk bedengan pembesaran harus dicangkul dulu sedalam 30 cm

hingga menjadi gembur, kemudian dicampurkan dengan pasir dan kompos yang

sudah jadi. Untuk ukuran bedengan lebar 1 m panjang 2 m, diberi 5 kg pasir dan 5

kg pupuk kompos. Setelah tanah, pasir dan kompos tercampur merata dan

6

dibiarkan selama 1 minggu. Pada saat itu juga tanah disemprot Vapan/Basamid

untuk mencegah serangan jamur/bakteria pembusukan jamur. Di sekeliling bedengan,

perlu dibuatkan saluran untuk penampung air. Jika bedengan sudah siap, biji yang

telah tumbuh akarnya tadi segera ditanam dengan jarak tanam 20 x 30 cm.

Penanaman biji durian dilakukan dengan cara dibuatkan lubang tanam sebesar biji

dan kedalamannya sesuai dengan panjang akar masing-masing. Setelah biji

tertanam semua, bagian permukaan bedengan ditaburi pasir yang di campur

dengan tanah halus (hasil ayakan) setebal 5 cm.

2.2.4 Pengapuran

Keadaan tanah yang kurang subur, misalnya tanah podzolik (merah

kuning) dan latosol (merah-coklat-kuning), yang cenderung memiliki pH 5 - 6 dan

penyusunannya kurang seimbang antara kandungan pasir, liat dan debu, dapat

diatasi dengan pengapuran. Sebaiknya dilakukan menjelang musim kemarau,

dengan kapur pertanian yang memiliki kadar CaCO3 sampai 90%. Dua sampai 4

minggu sebelum pengapuran, sebaiknya tanah dipupuk dulu dan di siram 4-5 kali.

Untuk mencegah kekurangan unsur Mg dalam tanah, sebaiknya dua minggu

setelah pengapuran, segera ditambah dolomit.

2.3 Teknik Penanaman

2.3.1 Penentuan Pola Tanaman

Jarak tanam sangat tergantung pada jenis dan kesuburan tanah, kultivar

durian, serta sistem amalan kultur yang diterapkan. Untuk kultivar durian berumur genjah, jarak tanam: 10 m x 10 m. Sedangkan kultivar durian berumur sedang dan dalam jarak tanam 12 m x 12 m. Intensifikasi kebun durian, terutama waktu anak benih durian masih kecil (berumur kurang dari 6 tahun), dapat diupayakan dengan

amalan kultur cantuman mata tunas. Berbagai amalan kultur cantuman mata tunas yang biasa dilakukan yakni dengan tanaman horti (lombok, tomat, terong dan tanaman pangan: padi gogo, kedelai, kacang tanah dan ubi jalar.

2.3.2 Pembuatan Lubang Tanam

Pengolahan tanah terutama dilakukan di lubang yang akan digunakan

untuk menanam anak benih durian. Lubang tanam dipersiapkan 1 m x 1 m x 1 m. Saat

menggali lubang, tanah galian dibagi menjadi dua. Sebelah atas dikumpulkan di

kiri lubang, tanah galian sebelah bawah dikumpulkan di kanan lubang. Lubang

tanam dibiarkan kering terangin-angin selama ± 1 minggu, lalu lubang tanam

ditutup kembali. Tanah galian bagian atas lebih dahulu dimasukkan setelah

dicampurkan pupuk kompos 35 kg/lubang, diikuti oleh tanah bagian bawah yang

telah dicampurkan 35 kg pupuk kandang dan 1 kg fosfat.

Untuk menghindari gangguan rayap, semut dan hama lainnya dapat

dicampurkan insectiside butiran seperti Furadan 3 G. Selanjutnya lubang tanam

diisi penuh sampai tampak membukit setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah.

Tanah tidak perlu dipadatkan. Penutupan lubang sebaiknya dilakukan 7-15 hari

sebelum penanaman anak benih.

2.3.3 Cara Penanaman

Anak benih yang akan ditanam di lapangan sebaiknya tumbuh 75-150 cm,

kondisinya sihat, pertumbuhan bagus, yang tercermin dari batang yang kukuh dan pengakaran yang banyak serta kuat.

Lubang tanam yang tertutup tanah digali kembali dengan ukuran yang lebih

kecil, sebesar gumpalan tanah yang membungkus akar anak benih durian. Setelah

lubang tersedia, dilakukan penanaman dengan cara sebagai berikut :

1. Polybag/pembungkus anak benih dilepas (sisinya digunting/diiris hati-hati)

2. Anak benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sampai batas leher

3. Lubang ditutup dengan tanah galian. Pada sisi tanaman diberi ajir agar

pertumbuhan tanaman tegak ke atas sesuai arah ajir.

4. Pangkal anak benih ditutup rumput/jerami kering sebagai mulsa, lalu disiram air.

5. Di atas anak benih dapat di bangun naungan dari rumbia atau bahan lain.

Naungan ini sebagai pelindung agar tanaman tidak layu atau kering

tersengat sinar matahari secara langsung.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan di atas penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan :

o Tanaman buah durian adalah salah satu bagian dari sistem kebun yang

merupakan salah satu pola dari bidang usaha yang banyak dipraktikkan di

Indonesia

o Pensyaratan biji durian yang akan diokulasi berasal dari biji yang sehat dan

tua, dari tanaman induk yang sihat dan subur

o Anak benih durian sebaiknya tidak ditanam langsung di lapangan, tetapi disemaikan

terlebih dahulu di tempat persemaian

o Jarak tanam durian tergantung pada jenis dan kesuburan tanah, kultivar durian, serta sistem amalan kultur yang diterapkan

3.2 Saran

Untuk meningkatkan pemahaman tentang amalan kultur durian secara vegetatif

kita sebagai mahasiswa-mahasiswi Universitas Almuslim haruslah lebih banyak

mempelajari dan membaca buku-buku yang dapat menambah wawasan kita

tentang buah durian khususnya dan buah-buahan yang lain secara umum.

1 ulasan: